Maya Hirai, Belajar dengan Origami

September 18, 2010

maya-hirai-belajar-dengan-origami-225x169Kompas – Fajar Ismayanti atau Maya Hirai, nama penanya, terkesan dengan inisiatif Pemerintah Jepang yang mewajibkan acara pengenalan seni dan budaya Jepang bagi mahasiswa asing sekali setahun. Pengajar dan fasilitas pelatihan ditanggung pemerintah.

Hal itu dia alami saat mendampingi suaminya, Bambang Setiabudi, yang menempuh studi pascasarjana program arsitektur dari Toyoha University of Japan, tahun 2003.

“Di Jepang kami belajar kesenian dan budaya tradisional hingga kontemporer, di antaranya tata cara minum teh, origami, sampai pembuatan kimono. Saya memilih origami,” ujar Maya. Kegiatan tersebut begitu membekas. Gurunya, Takako Hirai, salah satu origamer senior, sebutan bagi pelaku origami.

Pengetahuannya tentang origami semakin bertambah. Dari sekadar mengetahui teknik origami sederhana, seperti burung bangau, pesawat, dan kapal laut, perlahan Maya menguasai bentuk lebih sulit dengan menggabungkan dua kertas menjadi satu seperti membuat manusia hingga bola air.

Bakatnya dilihat Takako dan gurunya itu lalu mengajak Maya mengikuti tes sebagai instruktur yang diadakan Nippon Origami Association (NOA), organisasi origami tertua di Jepang. Dia adalah satu-satunya instruktur bersertifikat NOA di Indonesia.

“Peran Takako Hirai sangat besar. Untuk menghormatinya, saya memakai nama pena Maya Hirai,” ujarnya.

Waktu berjalan, Maya menyadari origami tak sekadar seni melipat kertas. Salah satu sumbangan terbesar origami adalah turut membangun kembali Jepang yang terpuruk pasca-Perang Dunia II.

“Dalam origami diajarkan ketelatenan, kesabaran, ketelitian, dan tanggung jawab yang tinggi. Jadi, tak mengherankan bila sifat-sifat itu tertanam dalam perilaku masyarakat Jepang,” ujarnya.

Mengumpulkan penggemar

Meski awalnya hanya digunakan sebagai penutup sake, origami lantas berevolusi menjadi unsur wajib dalam beragam pesta adat, keagamaan, hingga penanda status. Contohnya, origami boneka saat perayaan Hina Matsuri yang diadakan setiap 3 Maret untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan.

Berbagai model origami berkembang pesat. Model geometrik, modular, hingga berbagai bentuk miniatur hewan seperti aneka burung, ayam, bebek dan angsa, harimau, aneka bunga, dan hewan purbakala pun meramaikan dunia origami.

Kembali ke Indonesia, Maya ingin mengembangkan origami. Melihat banyaknya pelaku origami yang masing-masing bergerak sendiri, ia berinisiatif mengumpulkan origamer dalam satu ruang. Dia membuat www.sanggar-origami.com, situs web origami pertama berbahasa Indonesia. Ia juga mengumpulkan penggemar origami lewat Yayasan Sanggar Origami Indonesia tahun 2006.

“Sempat ada nada sumbang, tetapi sejak awal saya sadar kalau origami bukan tempat mencari uang. Saya hanya ingin berbagi kemampuan dengan orang lain,” ujarnya.

Lambat laun kiprah Maya semakin dikenal. Banyak orang ingin belajar origami. Dia menerima banyak undangan sebagai pelatih origami di beberapa daerah, seperti Wonosobo, Semarang, Yogyakarta, Lampung, Makassar, Jakarta, dan Garut.

Pemberdayaan masyarakat

Mereka yang ingin belajar origami berasal dari berbagai kalangan, dari ibu rumah tangga, mahasiswa, guru, sampai anak berkebutuhan khusus. Pelatihan meliputi materi yang beragam, dari origami tradisional sampai kontemporer karya origamer dunia, seperti Satoshi Kamiya, Shoko Aoyogi, Yamaghuci Makoto, dan Tomoko Fuse.

Materi yang diajarkan tak hanya teknis melipat kertas. Ia ingin filosofi origami berdaya guna bagi masyarakat Indonesia. Sebab, origami memiliki peran multifungsi, baik sebagai salah satu bentuk keindahan, sumber penghasilan ekonomi, hingga terapi.

Ia menyisipkan berbagai pesan positif lewat origami. Contohnya, saat mengenalkan pola daur ulang untuk mengurangi sampah rumah tangga. Ia minta agar para murid memilah sampah plastik dan kertas untuk dijadikan bahan pembuatan origami.

Katanya, kemampuan melipat bermanfaat guna mengurangi limbah kertas dari rumah tangga atau perkantoran. Kertas yang berserakan dapat diubah menjadi berbagai bentuk indah sebagai penghias ruangan.

Ia juga memberikan penekanan kepada guru pendidikan usia dini bahwa origami bisa menjadi sarana pengajaran dan terapi. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, origami bisa menjadi simbol saat ingin melakukan sesuatu.

Origami juga bisa menjadi alat terapi untuk mengajarkan ketenangan dan ketelitian bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang sulit fokus mengerjakan sesuatu. Ini bisa terlihat dari langkah sistematis yang harus diikuti dalam pembuatan model tertentu.

“Sejak lama masyarakat Jepang meyakini origami memiliki kekuatan menyembuhkan. Itu dibuktikan dengan pendirian monumen Sasaki Sadako di Hiroshima, yang terinspirasi semangat hidup seorang anak penderita kelainan darah akibat radiasi bom atom dengan membuat seribu origami bangau,” ujarnya.

Maya juga menularkan origami secara gratis kepada para tetangga. Dia melibatkan mereka yang sudah mahir untuk memenuhi pesanan pembuatan origami. Cara ini bisa membantu menambah penghasilan keluarga.

“Saya tak mau keahlian mereka hilang karena tidak pernah dilatih dan dipraktikkan. Jadi, mereka saya libatkan saat ada pesanan membuat origami,” ujar Maya, yang mendapatkan pesanan origami untuk pembuatan iklan dan dekorasi ruangan.

“Saya juga merancang sentra kertas daur ulang untuk bahan pembuatan origami, dengan melibatkan para tetangga. Bila ini bisa dikembangkan, tentu menjadi sumber penghasilan lain,” ujarnya.

Ke depan, ia ingin origami bisa memberi semangat dan sarana kreatif bagi masyarakat. Embrio untuk itu telah terbentuk saat Maya melihat tingginya animo masyarakat dalam mengikuti Festival Origami yang digagasnya pada 2009. Selain banyak pula anak-anak yang mengikuti pelatihan di Maya Hirai Origami School di Bandung.

Buah dari segala aktivitasnya mengembangkan origami itu menarik minat NOA. Tahun 2009 ia menjadi orang Indonesia pertama yang diundang NOA mengikuti pelatihan lanjutan dan menjadi perwakilan NOA di Indonesia.

“Origami hadir bukan untuk menggantikan seni dan budaya bangsa Indonesia. Saya berharap origami bisa menjadi salah satu penyambung semangat bangsa Indonesia untuk tetap kreatif dan berkepribadian lebih baik,” ujarnya.

Share Our Posts

  • Delicious
  • Digg
  • Newsvine
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati

Comments

There are no comments on this entry.

Trackbacks

There are no trackbacks on this entry

Add a Comment