Berimajinasi dalam Lipatan

February 20, 2010

berimajinasi-dalam-lipatan-225x168Koran Jakarta - Origami bukan sekadar seni melipat kertas menjadi berbagai bentuk menarik. Lebih dari itu, seni asal Jepang tersebut juga melatih kesabaran, memunculkan kreativitas, dan menjadi media komunikasi. Melipat kertas sudah dilakukan banyak orang semenjak kecil.

Membuat bentuk pesawat terbang, burung, kodok, perahu, bunga, dan aneka bentuk menyenangkan lainnya.

Secara tidak sengaja, apa yang dilakukan ketika anak-anak dulu merupakan kegiatan origami, sebuah seni melipat yang asalnya dari Jepang. Fajar Ismayanti, 38 tahun, seorang pehobi origami, mengatakan origami pada dasarnya adalah seni.

“Origami seni melipat kertas, yaitu mengubah selembar kertas menjadi bentuk-bentuk unik,” jelasnya. Dari asal usul katanya, origami berasal dari kata oru yang berarti melipat dan kami yang berarti kertas. Dengan teknik-teknik dasar origami, sebuah kertas dapat diubah menjadi bentuk apa saja sesuka hati pembuatnya.

Ismayanti yang banyak dikenal dengan nama Maya Hirai, mengambil nama guru origaminya, Takako Hirai San, mengatakan dalam origami hanya ada dua teknik dasar melipat kertas.

Teknik pertama melipat kertas menjadi berbentuk gunung (huruf A) dan teknik melipat menjadi bentuk lembah (V). Dua lipatan ini dapat dikembangkan menjadi aneka bentuk dasar baku.

Bentuk dasar baku tersebut di antaranya adalah bentuk segi tiga yang diperoleh dengan melipat melewati garis diagonal, bentuk blitz yang diperoleh dengan melipat ke tengah keempat sudutnya, lipatan permata menyerupai pohon cemara yang diperoleh dengan melipat kedua sudut atasnya ke tengah.

Dan lipatan dasar bola dengan membentuk segi tiga bidang kerucut dengan empat sayap menyerupai belimbing.

Lipatan dasar baku itu akan membentuk aneka lipatan yang lebih kompleks untuk membentuk hasil yang diinginkan. Semakin kompleks lipatan, hasilnya akan semakin unik.

“Kompleksitas lipatan akan menghasilkan bentuk yang sering kali tidak terduga,” ujarnya. Meski demikian, origami memiliki efek lipatan yang dapat mengurangi estetika objek. Agar tidak terlihat dengan nyata, efek lipatan biasanya dihilangkan.

Caranya dengan membasahi bahan kertas yang disebut dengan teknik basah. Hasilnya sebuah bentuk yang tidak lagi menyisakan bekas lipatan. Teknik itu, menurut Maya, digunakan untuk memunculkan efek volume atau isi. Misalnya kaki kuda dengan lipatan biasa akan terlihat gepeng.

Dengan teknik lipatan basah, kaki kuda akan memiliki isi dan terlihat kembung. “Origami kuda jadi mendekati seperti aslinya,” katanya. Origami tidak akan menarik jika tanpa pewarnaan.

Biasanya teknik pewarnaan dilakukan dengan dua cara, yakni setelah benda jadi dan sebelum benda dibuat. Namun, teknik yang pertama tidak akan memiliki nilai tinggi karena secara visual kurang memiliki estetika.

Teknik mewarnai sebelum origami dilakukan dengan cara membuat benda. Misalnya untuk mewarnai sapi, origamer, sebutan untuk pehobi origami, akan melipat kertas menjadi bentuk sapi.

Setelah itu, kertas yang akan diwarnai ditandai dengan pensil. Selanjutnya, titik yang sudah ditandai diwarnai dengan warna-warna yang disukai.

Maya yang belajar origami sejak tahun 2000, saat menemani suaminya studi S3 di Jepang, menuturkan estetika origami tidak akan muncul jika tidak diwarnai.

Warna merupakan aspek yang ter amat penting di samping teknik melipat kertas itu sendiri. Namun, ketika belajar origami, sebaiknya tidak menggunakan kertas berwarna. Tujuannya agar lipatan-liptan yang dilakukan dapat dengan mudah dipelajari tanpa terganggu efek warna.

“Setelah jadi, baru ditunjukkan hasil dengan warna-warninya yang sering membuat takjub,” tuturnya. Bahan yang dipakai dalam origami, menurut Maya, tidaklah sulit.

Bisanya digunakan kertas jenis manila. Namun, aneka kertas bekas dari koran atau majalah juga bisa digunakan.

Dengan begitu, dapat membantu daur ulang sampah-sampah kertas menjadi barang seni dan berguna. Dalam origami, sejauh ini ditabukan penggunaan gunting dan lem.

Origami dilakukan hanya dengan melipat-lipat kertas dengan ukuran umumnya 15 x 15 cm. Penggunaan gunting dan cutter untuk menyobek dan lem untuk menempel tidak dianjurkan.

Tempelan dan guntingan hanya akan merusak hakikat dari seni melipat kertas yang telah berkembang ke seluruh dunia itu.

Di dalam origami yang dikembangkan oleh Masahiro Jatani, memang berkembang origami arsitektur yang memungkinkan dilakukan sobekan.

Demikian juga pada pop card yang sering muncul dan kartu ucapan selamat merupakan salah satu bentuk origami dalam versi yang lain.

“Itu boleh saja, namun origami murni hanya melipat kertas tanpa ada alat apa pun,” ujarnya. Sebagai orang yang sering mengajari origami, selain berguru lewat buku dan Takako Hirai San secara informal, Maya membongkar beberapa hasil origami yang dihasilkan orang lain untuk dipelajari. Sampai saat ini, ia telah menciptakan aneka kreasi yang belum ada sebelumnya.

Menurut origamer Arif Hidayat, 29 tahun, eksplorasi origami akan menghasilkan keunikan lebih dari origami. Sebagai sebuah produk seni, origami ditentukan oleh beberapa faktor.

Kerapian lipatan, proporsi bentuk, serta jenis kertas menjadi pertimbangan. Perbandingan kepala kuda, misalnya, tidak harus sesuai dengan badan kuda sesuai aslinya.

Nilai itu sangat penting dalam dunia origami. Selain memiliki nilai seni, origami dapat dipakai menjadi sebagai sarana komunikasi, misalnya antara anak dan orang tua. Dengan membuat origami bersama, jalinan komunikasi antara orang tua dan anak dapat terjembatani.

Bahkan hasil origami yang berbentuk games dapat menjadi sarana anak bermain, mengasah fantasi, membaca diagram, berpikir matematis, serta melatih kerapihan dan ketelitian.

Peminat Dewasa Meskipun origami dekat dengan dunia anak, bukan berarti kegiatan itu hanya diperuntukkan dan dilakukan untuk anak-anak.

Bambang S Budi, Pendiri Yayasan Sanggar Origami Indonesia, menuturkan pertemuan origami dunia di Tokyo yang dihadiri perwakilan dari berbagai negara membuktikan bahwa origami bukanlah monopoli anak-anak.

“Banyak pertemuan dunia dihadiri oleh ratusan para pelipat kertas dari berbagai penjuru dunia, dan semuanya adalah orang dewasa,” katanya.

Begitu pula dengan perkumpulan masyarakat origami, seperti NOA (Nippon Origami Association), JOAS (Japan Origami Academic Society), BOS (British Origami Society), dan Origami USA, yang anggotanya terdiri dari orang-orang dewasa.

Menurut Arif yang juga pelatih origami, sejauh ini yang antusias belajar origami adalah para guru taman kanak-kanak (TK).

Pasalnya, mereka dituntut untuk dapat mengajari seni melipat kepada anak didiknya. Mereka juga dituntut kreatif untuk menghasilkan bentuk-bentuk baru.

Tapi sejauh ini, para guru TK sebatas ingin mengetahui dasar-dasar lipatan. Berbeda dengan para mahasiswa dan origamer yang akan melakukan eksplorasi mencari bentuk-bentuk kompleks.

Umumnya mereka yang lebih memiliki banyak waktu untuk mencoba hal baru, hasilnya akan lebih baik ketimbang seorang pekerja.

Para pekerja yang memiliki sedikit waktu luang biasanya sering berhenti untuk belajar. Tidak memiliki waktu adalah alasan yang paling sering dikemukakan. Lantaran kesibukan, dalam satu sesi belajar akan diikuti sekitar 20 orang.

Berbeda dengan guru TK, dalam sesi latihan di sebuah daerah, misalnya, yang hadir mencapai 200 hingga 250 orang.

Maya mengatakan selain mempelajari origami dengan mengikuti kelas-kelas origami, sebaiknya para origami membaca buku-buku origami.

Dengan cara tersebut, apa yang lupa dalam pertemuan yang sangat singkat itu dapat dipelajari sendiri.

Apalagi buku-buku origami asal Jepang banyak menawarkan aneka bentuk kompleks yang belum banyak dilakukan di Indonesia.

Budi mengatakan modelmodel origami telah dikenal sejak lama di Indonesia. Sayangnya, origami baru dikenal sebatas itu. Belum banyak model lipatan seperti di negara lain.
hay/L-1

Share Our Posts

  • Delicious
  • Digg
  • Newsvine
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati

Comments

There are no comments on this entry.

Trackbacks

There are no trackbacks on this entry

Add a Comment